Selasa, 22 Oktober 2019

DANAU LINTING SEBIRU BLAUSEE LAKE SWITZERLAND


Ketika melihat foto temanku di Instagram dengan pemandangan yang indah di Blausee, dengan komen: “The Blue Lake and its stunning crystal-clear blue water”, koq aku jadi "baper" teringat perjalanan kami dengan Minauli Consulting family ke Danau Linting tiga tahun yang lalu. 

Akupun “kepo” dan mengomentari: “Paulina ternyata di Deli Serdang ada lho danau yang biru, hehehe....”  Yok guys kita lihat apa betul Danau Linting sebiru Blausee Lake Switzerland?


Minauli Consulting Family

Danau Linting
Kawasannya alami dan mempesona berada di Desa Tiga Juhar, Kabupaten Deli Serdang.  Jarak dari kota Medan adalah 70 km dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam

Ibu Irna Minauli selaku Direktur Minauli Consulting (MC) mendapat informasi dan promosi objek wisata ini dari salah seorang kliennya yang letak rumahnya berada dekat daerah tersebut. Kebetulan kami semua staff MC belum pernah menjelajah ke Danau Linting jadi tertarik untuk membuktikan keindahannya 


Jalan Menuju Lokasi
Jalanan menuju ke kawasan ini cukup berliku dan banyak persimpangan. Kami 11 orang berangkat dari Kantor MC sekitar pukul 10.00 WIB naik kenderaan Hiace muatan 12 orang. 

Kami belum bersahabat dengan jalan yang dilalui, begitu juga supir yang membawa kami, untung ada google map sebagai penunjuk jalan sehingga kami tiba di lokasi dengan selamat. Masuk ke lokasi wisata ini dikutip bayaran Rp 5.000,-/orang.


Tiba di lokasi

Birunya Danau Linting
Begitu melihat pemandangan Danau Linting, Masya Allah betul indah dan biru kehijau-hijauan warnanya, dikelilingi pohon beringin yang rindang dan bambu yang menari-nari ditiup angin. Terbukti kebenaran promosi klien Bu Irna dan betul warnanya sebiru Blausee Lake Switzerland. Yok guys kita buktikan.

Paulina di Blausee Lake Switzerland

Aku dan suami di Danau Linting


Fasilitas Danau Linting
Di pinggir Danau Linting terdapat berderet gubuk-gubuk untuk disewakan kepada pengunjung dan ada juga sewa tikar seharga Rp. 10.000 – Rp. 20.000,- sesuai ukuran tikarnya. 

Ada beberapa warung kecil yang dikelola oleh warga setempat menyediakan indomie dan makanan ringan juga teh/kopi serta beberapa penjual jagung rebus berkeliling menawarkan dagangannya. Tersedia beberapa toilet dengan kondisi yang sederhana dan beberapa ayunan di pinggir danau.



Berderet gubuk-gubuk
(photo jejakpiknik)


Lesehan Santap Siang
Kami 11 orang dengan bobot rata-rata makmur tadinya ingin menyewa gubuk, tapi takut roboh duduk di dalam gubuk, memilih sewa tikar dan menggelarnya di atas rerumputan di pinggir Danau. 

Kami menggelar tikar, lesehan makan bersama
Tradisi MC adalah masing-masing membawa makanan sesuai yang dikompromikan dan dihidangkan untuk santap siang bersama lesehan sambil menikmati pesona Danau Linting yang alami. Alhamdulillah nikmatnya.

Tradisi MC, semua membawa makanan


Air Danau Linting
Air Danau Linting hangat sekitar 30 derajat Celcius dan mengandung belerang, tapi aromanya tak tercium namun jika dirasakan diujung lidah akan terasa belerangnya. Oleh karena itu dilarang berenang karena besar kemungkinan ada aktivitas vulkanik di dasar danau, hanya boleh berendam di tepi danau. (www.jejakpiknik.com).

Air danau hangat mengandung belerang

Hanya Meli dan putranya yang berendam di tepi danau, sebetulnya Ayu semangat juang mau ikut berendam, tetapi kami melarangnya karena dua bulan lagi dia akan menikah.
   
Meli dan putranya sedang berendam
Kami berkeliling jalan kaki mengitari danau dan berhenti jika ada angle yang pas dan unik untuk bakodak. Semua bebas berkreasi menikmati nuansa danau yang mempesona dan ada yang bakodak sambil menyantap jagung rebus.  


Angle yang unik untuk bakodak

Ayo semua merapat, cisss...

Bakodak dan menyantap jagung rebus

Ayu yang masih penasaran mau berendam, sengaja main ayunan dan mencelupkan kakinya ke air danau, kami juga mencuci tangan merasakan air danau yang hangat. Melihat ayunan, aku dan suami juga gak mau kalah dengan yang muda, kami berdua difoto oleh Bu Irna.

Gak mau kalah dengan yang muda

Goa Tao Delapan Putri
Ketika berkeliling, kami berhenti begitu milihat papan bertuliskan Goa Tao Delapan Putri. Kami bertanya kepada seorang pemandu yang berada di tempat itu, ternyata dari sini ada Goa Emas, Goa Perak dan telaga kecil 8 Putri. 

Masuk ke objek wisata ini harus dengan pemandu dan dikenakan bayaran sekitar Rp. 7.000,-/orang. Berhubung waktu belum mengizinkan, kami tidak menjelajah ke dalam goa dan cukup suamiku bakodak di depan papan informasi.

Suamiku di depan papan informasi

Pohon beringin yang rindang
Keistimewaan Danau Linting adalah teduh karena dikelilingi pohon-pohon besar yang usianya sudah tua dan ada pohon beringin yang akar-akarnya besar menjulur rapi bisa untuk berleyeh-leyeh dan cocok untuk objek bakodak yang unik.  


Suamiku berleyeh-leyeh

Beringin objek yang unik bakodak

Ternyata Ayu dan Ronal kagum dengan suasana Danau Linting mengambil beberapa photo mereka berdua dan menjadikannya photo pre wedding karena hasil jepretan Bu Irna Psikolog andal memang bagus, seperti photo di bawah ini.


Ayu dan Ronal (pre wedding)

Setelah puas berkeliling, kamipun berkemas untuk balik ke Medan. Makanan masih lumayan banyak tersisa, dengan cekatan Aku, Bu Irna dan Meli membungkus yang kami suka sambil tertawa bahagia tanpa beban dan selebihnya Ayu yang membagi-bagi untuk teman-teman yang lain dengan merata. Kelakuan emak-emak MC yang sudah difahami oleh yang muda-muda, hehehe....

Begitulah kisah perjalanan kami ke Danau Linting merupakan objek wisata yang potensial, unik dan langka, tapi sayang belum dikembangkan secara maksimal sehingga belum menarik wisatawan bahkan kami yang tinggal di Medan saja, baru pertama kali ke mari.  





Jika ada sentuhan dari Pemerintah setempat, pasti objek wisata alami yang mempesona Danau Linting dan Goa Tao Delapan Putri bisa menarik wisatawan asing dan kita wisatawan domestik juga tak perlu merogoh kocek mahal-mahal untuk bisa merasakan danau biru serasa di luar negeri. Bak kata peribahasa: “Hujan Emas di Negeri Orang, Lebih Baik Hujan Batu di Negeri Sendiri”.


Minggu, 13 Oktober 2019

OBJEK WISATA DI KUALA LUMPUR




Bagi yang hobby jalan-jalan biasanya kalau ke luar negeri, pasti mengunjungi objek wisata yang terkenal. Demikian juga dengan aku yang sudah beberapa kali ke Kuala Lumpur, Alhamdulillah telah mengunjungi beberapa objek wisata, seperti: Petronas Twin Tower, Batu Caves, Dataran Merdeka, Gedung Sultan Abdul Samad, KL Tower, Masjid Negara, Istana Negara, Museum Negara, KLCC, Masjid Putra Jaya, China Town, Little India, Railway Station, Genting Highland, Cameron Highland, Teluk Batik Lumut, Pangkor Island, Masjid Shah Alam.

Namun demikian ternyata masih banyak objek wisata yang belum kukunjungi, oleh karena itu lanjutan perjalanan dari Shah Alam ke Kuala Lumpur, kami jalan-jalan ke beberapa tempat selama empat hari. Yok ikuti perjalanan kami.



Concorde Hotel
Hotel berbintang empat terletak di Jalan Sultan Ismail, di jantung kota Kuala Lumpur. Letaknya yang strategis hanya sekitar 120 meter jalan kaki sudah sampai ke Bukit Nanas Monorail Station dan dari stasiun ini kita bisa pergi ke mana kita suka, asyikk kan? Alhamdulillah Devan anak yang baik hati meng-upgrade kamar kami menjadi premier room, akupun menikmati indahnya kelap-kelip lampu Menara KL dari jendela sebelum tidur.

Concorde Hotel
Premier Lounge
Fasiltas hotel yang istimewa karena menginap di premier room adalah bebas rehat di lounge kapan saja. Aku dan Yoga paling syoorr rehat sekelak di lounge habis jalan-jalan sambil menikmati snack, teh dan soft drink. Heemmm sedaapp. Begitu juga ketika Kak Nur, kawan Bibie semasa IMT-GT yang tinggal di KL datang ke hotel membawa kue-kue dan bakwan, kami santap sambil rehat di lounge.

Rehat dengan Kak Nur di lounge.

Breakfast & Swimming Pool
Alhamdullillah menikmati breakfast dengan view menghadap swimming pool dan yang istimewa menyantap mie kuah, sedaapp. Bibie selesai sarapan langsung berenang dan aku cukup puas bakodak saja lah, kelihatan juga Menara KL dari sini.



Mie kuah sedaapp

Kelihatan KL Tower


Bukit Bintang
Bukit Bintang merupakan kawasan pusat perbelanjaan dan hiburan di Kuala Lumpur. Ada Pavilion KL tempat belanja barang branded, karena gak berniat belanja kami hanya lewat saja dan tak ingin jadi “pateten” pasukan tengok-tengok kata orang Medan, hehehe....

Namun demikian perut lapar gak bisa kompromi, kami makan siang nasi ayam Hainan di Chee Meng restoran yang terkenal di Bukit Bintang, harganya cukup mahal dibandingkan di Gurney Plaza Penang, berdua sekitar RM 38.



Alor Food Street
Alor Street terkenal sebagai tempat wisata kuliner di KL. Jika ingin merasakan meriahnya tempat ini disarankan pergi di malam hari karena semua tempat makanan buka sampai pukul 02.00 am.

Sepanjang jalan dihiasi lampion merah dan banyak orang berkunjung untuk menikmati makanan di sini karena waktu pagi/siang hari, hanya beberapa stand saja yang buka dan sebagian besar adalah Chinese Food, untuk yang muslim harus berhati-hati karena umumnya masakannya non-halal. Sebagai pilihan ada beberapa restoran orang India yang menjual nasi goreng kampung, nasi ayam, nasi lemak, tomyam (www.tripadvisor.co.id).

Alor Food Street

Ketika kami ke Alor Street sore hari, suasana sudah mulai ramai. Bibie kesempatan menyantap durian “mao shan king” yang harganya murah RM 25/buah meskipun kecil tetapi rasanya sama seperti waktu kami makan durian di Penang yang super mahal RM 150/buah, tetapi besar.



Kue-kue adalah makanan kesukaanku, begitu melihat penjual kue “putu piring”, aku berhenti membelinya. Sambil menunggu antrian kuperhatikan penjual yang sedang memasak kue putu piring, kayaknya mirip “putu bambu” di Medan, hanya cara memasak dan bentuknya yang berbeda, rasanya juga hampir sama hanya putu bambu di Medan ada tambahan kelapa parut di luarnya.  Yok guys lihat rekaman videoku (youtube Farida yuliani.fy, Putu Piring, Alor Street, 5.8.2019).


Kue putu piring yang sudah masak


Masjid Asy–Syakirin
Masjid ini merupakan tanda arsitektur Islam di Kuala Lumpur. Nama Asy-Syakirin bermakna “orang-orang yang bersyukur” terletak di ujung utara taman KLCC berdekatan dengan pusat perbelanjaan Suria KLCC dan Petronas Twin Tower. Masjid ini mampu menampung sebanyak 12.000 orang sejak direnovasi pada tahun 2009 yang terdiri dari dua lantai dan luasnya 21 hektare (Wikipedia).




Twin Tower di belakang 
Masjid Asy-Syakirin



Tahun lalu Bibie pernah shalat Idul Fitri di masjid ini, jadi masih hafal jalan pintas dengan berjalan kaki dari hotel melewati taman KLCC sekitar 15 menit sampai di masjid. Alhamdulillah bisa shalat duha di masjid ini dan sudah tentu aku bakodak sebagai kenang-kenangan.




Lantai satu Masjid Asy-Syakirin


Bakodak sekejap

Petronas Twin Tower
Meskipun sudah beberapa kali bergaya di Petronas Twin Tower, tetapi ketika melewati taman KLCC menuju masjid Asy-Syakirin terlihat menaranya menjulang tinggi, akupun bakodak lagi.





Twin Tower dari taman KLCC


Central Market
Central Market dikenal dengan Pasar Seni di Malaysia, terletak di Jalan Tun Tan Cheng Lock. Bangunan bersejarah berdiri sejak tahun 1888, awalnya berfungsi sebagai pasar basah. 



Wisatawan berbondong-bondong ke Central Market yang merupakan pusat wisata oleh-oleh dan tersedia beragam kerajinan tangan, seni, kebaya, songket dan souvenir asli Malaysia dari etnis Melayu, Cina dan India hingga perlengkapan rumah. Panggung terbuka di Central Market adalah tempat pengunjung menikmati acara seni  dan budaya keragaman etnis di Malaysia (www.Malaysia.travel).

Central Market berdiri sejak 1888

Yoga menyarankan kami untuk pergi  ke central market kalau mau beli oleh-oleh karena katanya murah dan bisa ditawar. Aku dan Bibie memang belum pernah kemari, jadi ingin mencoba meskipun agak jauh. Kami naik grab car sekitar 30 menit RM 20. 

Begitu sampai di tempat kulihat tertera tulisan 1888 di atas bangunannya, ternyata sudah lama bingits ya... tetapi kami berdua koq baru tahu? kasihan ya. Setelah membeli oleh-oleh kami singgah menikmati nasi briyani di Restoran Yusoof dan Zahkir di seberang central market.


Restoran Yusoof dan Zahkir

Padang Jawa, Shah Alam
Melihat Yoga pulang pergi naik train ke Padang Jawa, aku dan Bibie ingin juga mencoba dan minta Yoga memandu kami. Selesai sarapan pagi kami jalan kaki ke stasiun monorail Bukit Nanas, dari sini kami beli tiket ke KL Sentral RM 2,80/orang, sekitar 10 menit tiba di KL Sentral.




Kami otw dari Bukit Nanas ke KL Sentral


Yoga mengajariku membeli tiket menggunakan ticket machine, harga tiket  RM 4,80/orang dengan tujuan Pel. Klang sesuai rute yang tertera di platform 3 dan turun di stasiun Padang Jawa. Sambil menunggu train tiba, Yoga ngomong: “Perhatikan ya wak, nanti pulangnya belajar sendiri.”  Begitu kami berangkat, Yoga kembali ke hotel dan 55 menit menempuh perjalanan kami tiba di stasiun Padang Jawa. 


Yoga di ticket machine

Platform 3

KL Sentral ke Pel. Klang turun di Padang Jawa

Dari stasiun sudah terlihat gedung Suria Jaya dan kami jalan kaki 5 menit sudah sampai di kos-kosan Yoga. Kami sempatkan makan nasi lemak, belanja di Mydin  dan jajan martabak manis yang penjualnya orang Padang. 


Gedung Suria Jaya terlihat dari 
stasiun Padang Jawa


Jajan martabak manis

Setelah leyeh-leyeh dan mandi kami balik jalan kaki ke stasiun Padang Jawa naik train menuju KL Sentral. Tiba di KL Sentral beli tiket train ke Bukit Nanas dan lanjut jalan kaki ke hotel. Alhamdulillah selesai pelajaran naik train dari KL ke Padang Jawa, Shah Alam (pp).

  
Stasiun Padang Jawa




Padang Jawa ke KL Sentral

Restoran Kak Mah Tomyam
Restoran yang menyajikan masakan khas Thailand berlabel halal terletak di Jalan Sultan Ismail, Kampung Baru cukup terkenal di KL. Hanya 10 menit naik mobil dari Concorde Hotel

Kak Nur menjemput kami untuk makan malam di sini karena dia bilang: “Bubur berlauk di sini sedap lah, harus coba.” Begitu sampai Kak Nur langsung ke etalase mengambil sendiri sayur-sayuran segar, ikan/telur asin, jamur yang langsung dimasak di dapurnya.. Bibie memesan ikan segar, tomyam dan mango sticky rice. Alhamdulillah betul sedaapp bubur berlauk, apalagi mango sticky rice aku yang menghabiskan.  

Sangkin syoorr melihat sayuran segar, lauk pauk dan mangga kuning menggoda,  aku merekam videonya (youtube Farida yuliani.fy Restoran Kak Mah Tomyam).

Bubur berlauk

Makan malam dengan Kak Nur




Begitulah kisah perjalanan kami selama empat hari di Kuala Lumpur, melalak ke beberapa tempat yang belum pernah kami kunjungi. Alhamdullilah nikmat rasanya dan ternyata banyak yang harus dipelajari dalam hidup ini karena belajar sepanjang hayat. Cocok kam rasa? Bak kata pepatah: “Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasai.” 



















Sabtu, 21 September 2019

KAMPUNG PADANG JAWA, DI SHAH ALAM


Mendengar kata “kampung” aku membayangkan daerah yang sepi, banyak pohon kelapa, dan ndeso gitulah kira-kira ketika kami ingin mengunjungi tempat kos Yoga di Shah Alam yang katanya kampung, tapi aku dan Bibie tetap semangat melalak ke Shah Alam. Ada apa ya di Shah Alam? Yok ikuti lanjutan kisah perjalanan kami dari Penang menuju Shah Alam.

Penang ke Shah Alam
Penang ke Shah Alam
Perjalanan dari Penang ke Shah Alam bisa ditempuh dengan bus, train dan pesawat, mumpung ada Yoga sebagai penunjuk jalan, maka kami memilih naik KTM (Kereta Tanah Melayu) Electric Train Service (ETS). Tiket bisa dibeli online, tetapi sehari sebelumnya kami beli tiket langsung ke stasiun KTM di Butterworth. 

Ada beberapa pilihan jadwal keberangkatan, mulai pukul  05.15 dan yang terakhir pukul 18.33 (waktu Malaysia). Kami pilih berangkat pukul 13.10 dari Butterworth menuju KL Sentral, dengan jarak tempuh 4 jam 15 menit dan harga tiket Platinum RM 79 per orang. Jazakillah khairan Bibie sudah membayar tiketku dan Yoga.

Sebelum berangkat, bakodak dulu sekelak ya di depan train biar sah. Alhamdulillah sekitar pukul 17.30 kami tiba di KL Sentral, langsung shalat dan makan petang.

Bakodak dulu ya
Suria Jaya, Padang Jawa, Shah Alam
Menuju tempat kos Yoga sebetulnya lebih murah naik train dari KL Sentral, tapi karena bertiga dan bawa koper maka kami naik grab car sekitar 45 menit. 

Begitu tiba di sebuah mall yang bernama Suria Jaya, Yoga mengajak kami turun: “yok sudah sampe”, Aku agak kaget juga loh katanya kampung, koq berhenti di mall? Tambah heran lagi dan senang karena di lantai satu aku melihat “Maydin shopping mart”. 

Kami dibawa Yoga naik lift ke lantai 19 dan masuk tempat kosnya. Alhamdulillah aku langsung berkata: “Ini bukan lagi kos-kosan, tapi apartment lah ini". Bayangkan ada dua kamar tidur, ruang makan dan dapur/kitchen set, dua kamar mandi. Karena lelah, kami tak banyak cerita lagi, selesai bersih-bersih langsung tidur.

Suria Jaya, Kp. Padang Jawa
Tempat kos Yoga, Apartment kan?

Padang Jawa
Padang Jawa adalah sebuah bandar kecil di Selangor, Malaysia yang terletak diantara dua bandar, yaitu 8 Km dari Bandar Klang dan 5 Km dari ibukota Selangor yaitu Bandaraya Shah Alam. Kampung Padang Jawa konon didirikan oleh seorang pendekar dari Jawa Tengah (Wikipedia).

Menurut Yoga, Shah Alam merupakan daerah pemukiman dan harga rumah di sini cukup mahal. Mayoritas penduduknya adalah muslim dan nuansa religi sangat terasa karena pukul 22.00 tidak ada kehidupan malam dan semua toko sudah tutup, juga tidak ada satupun “cafe” di Padang Jawa.

Suasana Kp. Padang Jawa pagi hari
Restoran Nasi Kandar
Ada dua Restoran Nasi Kandar yang terkenal di Padang Jawa, yaitu Restoran Ayza’s dan Pelita. Bangun pagi, kami bertiga jalan kaki sambil menikmati suasana yang nyaman di Padang Jawa. Sekitar 50 meter dari tempat kos Yoga, kami berhenti di restauran Ayza’s untuk menikmati sarapan pagi. Kami memesan roti telur, martabak plus kuah kari, dalca dan teh tarik. Alhamdulillah sedaapp lah.

Sarapan pagi di Restoran Ayza's
Roti telur kuah dalca
Martabak kuah kari dan dalca
Pasar Pagi
Di Padang Jawa hanya ada pasar pagi yang buka setiap hari Minggu dan pasar malam buka hari Jum’at malam. Kami beruntung karena tiba di Shah Alam hari Sabtu dan Minggu pagi setelah sarapan pagi di Restoran Ayza’s lanjut jalan kaki dibawa Yoga ke pasar pagi. 

Seronoklah melihat aneka ragam sayuran, ikan, buah-buahan sampai bed-cover juga ada. Aku pengen beli kerupuk leko yang basah, tapi lama lagi balik ke Medan, gak jadi beli dan tapai pulut yang dibungkus daun jambu yang kami beli, heemmm manis, juga manggis kesukaan Bibie.

Aku dan Bibie di pasar pagi


Balai, Warung dan Rumah Datuk
Selesai keliling pasar pagi, kami jalan kaki balik ke tempat kos Yoga, sekitar 50 meter dari pasar pagi aku melihat ada bangunan sederhana bertuliskan "Dewan Orang Ramai" dan Yoga bilang: “Oh itu gedung untuk acara pesta kawin orang kampung sini wak”. 

Jalan lagi kami lihat ada warung jualan makanan setempat yang menggoda lidah, karena sudah kenyang, kami hanya membeli kue-kue saja. Namun keesokan hari, aku dan Bibie sarapan pagi di warung ini. Silakan lihat makanannya ya teman-teman (youtube faridayuliani.fy Breakfast at Padang Jawa, Shah Alam, 5.8.2019).

Gedung untuk pesta kawin


Di samping Suria Jaya Mall, Bibie menunjuk ada rumah mewah tipe Melayu dengan halaman yang luas dan asri, biasanya ini rumah datuk kaya. Akupun bakodak lah.

Bakodak di depan rumah datuk
Masjid Shah Alam
Salah satu yang menarik adalah Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz yang berada di pusat ibu kota negara bagian Selangor, di Shah Alam. 

Masjid ini merupakan yang terbesar kedua di Asia Tenggara dan posisi yang pertama adalah Masjid Istiqlal Jakarta, Indonesia. Kemegahan Masjid Shah Alam tampak dari kubahnya yang menjulang setinggi 51 meter dan bergaris tengah 109 meter dan mengadopsi gaya arsitektur Turki (Republika.co.id.Jakarta).

Kami di Masjid Shah Alam


Alhamdulillah aku dan Bibie dibawa Yoga naik grab car ke masjid ini dan kesampaian shalat di masjid yang indah ini. Baru afdhol kalau sudah mengambil rekaman video-nya (youtube faridayuliani.fy, Masjid Shah Alam, 5.8.2019).



I-City dan Aeon Shopping Mall                         
Ada beberapa shoppling mall di Shah Alam, tapi hanya dua mall yang kami kunjungi dan pilihan pertama adalah I-City Shooping Mall karena ada bus gratis ke I-City dan beruntung tepat di depan tempat kos Yoga terdapat halte bus. Sekitar pukul 09.00 pagi kami berangkat dan sangkin senangnya naik bus bersih, cantik berwarna pink dan gratis, suasana ini menjadi momen yang indah kurekam di video (youtube faridayuliani.fy. To I-City by bus, 5.8.2019).


Hanya 20 menit sudah sampai di I-City tapi mall baru buka 10.00 am. Enjoy aja, kami berjalan-jalan mengitari taman bermain yang terletak di depan mall. Ada yang menarik di taman ini yaitu tempat sampah yang bersih dengan bentuk berbagai binatang, aku merekam videonya. Bibie syoor mengambil fotoku di antara pohon-pohon serasa di Jepang katanya, hehehe.... 


Serasa di Jepang


Setelah mall buka, kami berjalan-jalan sambil melihat-lihat, rehat minum kopi dan mencoba makanan Thailand.  Lanjut naik grab car ke Aeon Mall, keliling lihat barang-barang yang lagi “sale”.  Ya namanya mall, sama saja dengan Aeon Mall di BSD Jakarta, buka 10.00 am dan tutup 10.00 pm.

Inilah yang ada di Padang Jawa, Shah Alam.  Ternyata bukan seperti kampung yang kubayangkan tetapi memang betul kampung karena namanya “Kampung Padang Jawa”. 

Namun demikian bahagia rasanya selama tiga hari menikmati suasana nyaman, bersih, makanan yang sedap, bus gratis, dan yang utama kesampaian shalat di Masjid Shah Alam. Jadi bahagia itu sederhana kan guys, tergantung bagaimana kita mensyukuri nikmat Allah, dimanapun kita berada. Cocok kam rasa?




Perjalanan kami masih berlanjut dari Shah Alam ke Kuala Lumpur. Ingin tahu apa yang kami lakukan di KL? Sabar ya.... menyusul kisah selanjutnya.